Selasa, 15 Mei 2018

De Havilland DH-86A Ekspress

RI-008, De Havilland DH-86A Ekspress sewaan Pemerintah Indonesia




Foto kedua dari om SamsUdin Putranto Hanafi 


Pada awal2 masa kemerdekaan kita, Pemerintah Indonesia banyak menyewa ataupun membeli pesawat untuk menembus blokade-blokade Belanda. RI-008 merupakan pesawat salah satu pesawat yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia untuk menembus blokade-blokade Belanda. Pesawat ini kabarnya merupakan jenis DH-86A Ekspress bernomor konstruksi C/N 2344 dan bekas milik maskapai Intercontinental Air Tours,Sydney dengan registrasi G-ADYH dan memiliki nosename pesawat yaitu "Denebola". Bila dilihat dari awal pembuatannya, pesawat ini dibuat pada Bulan Juni tahun 1936 di Hatfield, setelah itu pesawat ini sempat berganti-ganti kepemilikan hingga akhirnya pada tahun 1948 pesawat ini disewa oleh Pemerintah Indonesia dan kabarnya bermarkas di Malaya dan Burma. Ketika pesawat ini disewa oleh Pemerintah Indonesia, pesawat ini mendapat registrasi RI-008, namun registrasi tersebut memang tidak terpasang dengan jelas ( kemungkinan untuk mengkaburkan identitas pesawat ). Pada saat Agresi Belanda 2 tanggal 19 Desember 1948, pesawat RI-008 ini kabarnya ada di Lapangan Terbang Maguwo. Beruntungnya, saat Belanda menyerang Lapangan Terbang Maguwo hampir seluruh pesawat di Lapter tersebut hancur ( termasuk RI-004 yg sedang stand by disitu ) kecuali pesawat RI-008 dan 2 K5Y1 Cureng yg diparkir di dalam Hangar Maguwo. Menurut beberapa info, livery RI-008 yg dicatat Belanda saat Belanda Melakukan AMB 2 yaitu menggunakan livery bertuliskan "Intercontinental" di body pesawat dengan tulisan " Skytravel Ltd" di ekor pesawat. Pesawat RI-008 yg ditemukan dalam Hangar TKR Oedara di Lapter Maguwo akhirnya disita oleh Belanda dan dibawa ke Lapangan Terbang Andir oleh Letnan K. Van Gessel. Di Andir, pesawat ini kabarnya dibongkar dan menyisakan 4 mesinnya yaitu De Havilland Gipsy. Menurut ‭http://www.goodall.com.au‬ , mesin tersebut akhirnya dipakai oleh Indonesia dikemudian hari dan digunakan untuk dipasang ke pesawat buatan Indonesia ( kemungkinan pesawat bikinan pak Nurtanio yaitu NU-200 "Sikumbang" ). Sayang peninggalan dari RI-008 sama sekali tidak ada karena pesawatnya telah dibongkar di Bandung pada 1949 dan tidak menyisakan apapun. Foto-foto dari RI-008 pun tidak pernah beredar jelas, namun 1 foto ini kemungkinan adalah "penampakan" dari De Havilland DH-86A Ekspress RI-008 sewaan Pemerintah Republik Indonesia.

Senin, 18 Desember 2017

Nurtanio NU-25 , NU-35 ,NU-50 "Si Kunang"



Hasil gambar untuk nu-25 Kunang
Hasil gambar untuk nu-25 Kunang
NU-25 "Si Kunang" X-04
Hasil gambar untuk nu-25 Kunang
NU-35 "Super Kunang" X-05

NU-35 "Super Kunang" by http://aviadejavu.ru/Site/Crafts/Craft32930.htm
Foto Hizkia Steven.
NU-50 "Super Kunang II" by Buku Nurtanio hal 128-129
Foto Hizkia Steven.
Rute Penerbang NU-25 "Kunang" ketika melakukan penerbangan X Country

Nurtanio NU-25 , NU-35 ,NU-50 "Si Kunang"

Pesawat ini merupakan pesawat buatan Indonesia yang dibuat oleh bapak Nurtanio Pringgoadisuro. Pesawat ini dibuat pada tahun 1958 di Bengkel Depot Penyelidikan Percobaan dan Pembuatan Pesawat Angkatan Udara yang bermarkas di Lanud Andir (sekarang Lanud Hussein Sastranegara). Pesawat ini merupakan pesawat olahraga berawak 1 dengan dilengkapi dengan mesin mobil VW 25 PK. Pesawat ini di uji terbang pertama kali pada 2  November 1958 di Bandung oleh Bapak Nurtanio. Pada tahun 1962, tepatnya 11 Juni 1962 pesawat NU-25 Kunang melakukan penerbangan Cross Country yang di awaki oleh Bapak Nurtanio dengan rute penerbangan Bandung - Tasikmalaya - Purwokerto - Yogyakarta - Solo - Surabaya - Semarang - Cirebon - Bandung. Penerbangan ini juga diikuti 2 buah NU-90 serta heli Mi-6 sebagai heli Rescue apabila terjadi sesuatu. Penerbangan X Country tersebut dapat berhasil dan dilakukan dengan selamat. untuk lebih lengkap artikel ttg Nu-25 dapat dibaca di https://aviahistoria.com/2017/09/20/kisah-si-kunang-dan-belalang-taklukan-jawa/
Selain membuat Nu-25 , Bapak Nurtanio juga sempat membuat NU-35 "Super Kunang" X-05 yang ditenagai dengan  VW 35 PK dan juga NU-50 "Super Kunang II" X-07
Peninggalan pesawat NU-25 masih dapat kita lihat di Museum Pusat TNI Satria Mandala, Jakarta. Sementara itu, NU-35 dan NU-50 tidak ada peninggalannya.
Foto Hizkia Steven.
Foto Hizkia Steven.
Foto Hizkia Steven.
Foto Hizkia Steven.

Kamis, 15 Desember 2016

Mikoyan Gurevich Mig-19 Farmer

Mikoyan Gurevich Mig-19S Farmer


Pesawat ini dibeli Indonesia sebanyak 10 unit dari Rusia pada Tahun 1961. Awalnya, Indonesia tidak berminat untuk membeli pesawat ini,namun syarat untuk membeli Mig-21 waktu itu, Pemerintah Uni Soviet (sekarang Rusia) hanya bersedia jika membeli sepaket dengan Mig-19. Pesawat ini lalu di masukkan ke dalam Skadron Udara 12 yang berpangkalan di Lanud Kemayoran, Jakarta. Pesawat ini ikut dalam operasi Dwikora, tetapi nasib pesawat ini memilukan pada 1965 sebanyak 5 pesawat ini di jual ke Pakistan. Selain itu,beberapa penerbang dan teknisi juga dikirim ke Pakistan yang sedang mengalami konflik dengan India. Lalu pesawat ini ditukar dengan 3 pesawat L-1049 Super Constellation namun ketika baru saja mendarat di Indonesia ternyata performa pesawat itu cukup buruk dan hanya dipakai beberapa tahun saja.


















Monumen pesawat tersebut masih dapat dilihat di :





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoMa1B3Z_Z0sEiLoY_8sli-MOUZecnnUUrhJ4G_fl4RwZVpUjy-sYWu0Tn5gAQxZgj92oqDpifjFJTK12thFmiFjigJRZv7JV7RnakxDCx7qBSoDtzpVIPLk_nDGG-WtfRKL-trCvxQ_c/s400/578798_3988979921478_703755387_n.jpg
komplek AAU,Yogyakarta (F-1903)


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHSg4wVHK-r_5f2X_fiAhqWglnKX7aK5qF5xD-yRFuzczH68kBq-jz1uwaSkNZtWWaQxYeXwvfMgVU2Vw4_6Vm_x8fcOOgCC7D6lVxb68NyHl5ezx6SoBQHfdi9H0k5LXdqAAnP-ZaXNw/s400/mig-19s-01.jpg
Museum Dirgantara Mandala,Yogyakarta (F-1904) (Foto by om Alex)


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVSlBxsJxJ2OQ2JJ4jF3EfooXam6iJsVfd0C2Yb9bkTQK_Qnz29wzZQa1gx56_lp574Sl9FYe8SHaP6DF6yc71yUftgzX2KQP4yKyiWCpex-tAws4OYL1UZmYuncijXBNBek1rFoF9b2A/s400/mig19_02.jpg
Lanud Kemayoran, Jakarta (F-1902) (Dikirim ke AS )










Minggu, 20 November 2016

Mikoyan Gurevich Mig-21 Fishbed
























Mikoyan Gurevich Mig-21F-13 " Fishbed C "

Pesawat ini dibeli Indonesia pada tahun 1961 dan datang ke Indonesia pada 1962. Indonesia memakai
sebanyak 20 pesawat Mig-21 seri Mig-21 Fishbed C . Sebanyak 5 buah pesawat mengalami kecelakaan. Pada sekitar tahun 1970an pesawat ini  digrounded akibat kekurangan suku cadang. 4 diantaranya masih ada di Indonesia antara lain F-2158 (Hangar ITB) ,F-2160 (Museum Dirgantara Mandala) ,F-2164 (Museum Satria Mandala) , dan F-2167 (KOHANUDNAS). 10 diantaranya dibawa ke Amerika pada tahun 70-an.




















Peninggalannya :
Foto Hizkia Steven.
Museum Pusat TNI Satria Mandala,Jakarta
Foto Hizkia Steven.
Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala,Yogyakarta
Foto Hizkia Steven.
Depan gedung Kohanudnas,Lanud Halim Perdana Kusuma

Selasa, 25 Oktober 2016

Lavochkin LA-11 dan LA-9UTI

Lavochkin LA-11 dan LA-9UTI

Pesawat ini datang dari RRC sekitar tahun 1957-1958 . Sebanyak 24 LA-11(registrasi F-901 s.d. F-924)  dan 3 La-9UTI (registrasi F-925 s.d. F-927)  dimasukkan kedalam Skadron Udara 3. Kedua pesawat ini diperkirakan datang bersamaan dengan Tupolev TU-2. Masa pakai pesawat ini tidak terlalu lama sekitar 2-3 tahun karena sudah digantikan oleh pesawat-pesawat jet buatan Mig.
Peninggalannya masih dapat dilihat di Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta dengan registrasi F-911.
Museum Dirgantara Mandala,Yogyakarta (F-911) (Airliners.net) 

 Foto yang diatas merupakan editan dari saya.Foto-foto ketika aktif beroprasi di AURI masih belum ditemukan.

Avia B.33 (Ilyushin IL-10)




Sumber foto : Museum Lanud Halim Perdana Kusuma/ Dispen AU, Foto diambil pada tanggal 28 Februari 1959.

Avia B-33 dan CB-33 (ILYUSHIN IL-10)

AURI sempat memakai pesawat ini sekitar 14 buah yang didatangkan langsung dari Polandia sekitar tahun 1957-1958 kemungkinan registrasinya mulai dari F-371 sampai dengan F-384. Versi yang dipakai AURI adalah B-33 yang dimodifikasi pada bagian tanki bahan bakarnya agar dapat terbang lebih lama. Masa pakai Il-10 tidak terlalu lama karena katanya performa pesawat tersebut kurang bagus. Lalu akhirnya pesawat dikembalikan ke negara asalnya, Polandia. Untuk peningglan pesawat ini tidak ada karena seluruh IL-10 AURI dikembalikan ke Polandia.

Kamis, 27 Agustus 2015

CS-102 (Mikoyan Gurevich Mig-15UTI)

MIKOYAN GUREVICH MIG-15 UTI

Pesawat ini dibeli AURI sebanyak 30 buah pada tahun 1957. Versi yang dipakai AURI adalah CS-102 yaitu lisensi Mig-15UTI dari Ceko. Pesawat ini dimasukan kedalam Skadron Udara 11 Lanud Kemayoran,Jakarta(lalu di pindah ke Lanud Abdulrahman Saleh,Malang). Pesawat ini memiliki 2 crew  pesawat ini sempat dipakai untuk misi operasi Trikora dan Dwikora,tetapi pada tahun 1970an pesawat ini digrounded akibat kelangkahan suku cadang.



























Mig-15UTI AURI beregistrasi J-770 dengan livery Thunder di body pesawat
monumen pesawat ini ada di :
Foto Hizkia Steven.
Foto Hizkia Steven.
sebelum dicat ulang (memakai registrasi palsu J 185)
Foto AURI MiG plane photo.
Setelah dicat ulang
Depan gedung Kodiklatau,Lanud Halim Perdana Kusuma



Museum Dirgantara Mandala,Yogyakarta (J-767)