Selasa, 30 Juni 2015

Ilyushin IL-14 dan Avia Av-14

ILYUSIN IL-14 AVIA  

Pesawat ini didatangkan dari Chekoslovakia dengan jenis Avia AV-14 pada tahun 1958 lalu pesawat ini dimasukkan ke dalam Skadron Udara 17 dan Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdana Kusuma,Jakarta. Pesawat ini juga di jadikan pesawat kepresidenan dengan registrasi : T-401 "Dolok Martimbang" dan T-405 "Merbabu". Indonesia memakai 3 varian pesawat ini yaitu Ilyushin Il-14PS , Ilyushin IL-14T dan Avia Av-14. Pesawat ini beroperasi hingga tahun 1975. 1 peninggalannya masih dapat dilihat di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala,Yogyakarta(Sebelumnya menjadi monumen di Lanud Abdulrahman Saleh,Malang).

T-401 Saat sedang membawa Presiden Republik Indonesia Pertama Soekarno


Pesawat Avia 14 beregistrasi T-403 sedang mengangkut uang ke daerah-daerah dari PAU Halim Perdana Kusuma.

















Hasil gambar untuk jenazah usman dan harun

Hasil gambar untuk jenazah usman dan harun
Av-14 sedang membawa jenazah Usman dan Harun kembali ke Indonesia

Monumen pesawatnya ada di:



Lanud Abdulrahaman Saleh,malang (sebelum 2012)

Lanud Abdulrahaman Saleh,malang(sesudah 2012)















Lanud Abdulrahaman Saleh,malang (2015)(sebelum dipindah ke Museum Dirgantara Mandala)

Foto AURI MiG plane photo.
Museum  Pusat TNI AU Dirgantara Mandala,Yogyakarta (2017)


Minggu, 28 Juni 2015

Lockheed T-33 T Bird

LOCKHEED T-33 BIRD

Pesawat ini dibeli indonesia pada tahun 1973 yang bersamaan dengan pesawat F-86 Avon Sabre.Selanjutnya dimasukkan ke dalam Skadik 017 dan menempati hanggar eks Skadron-42 (hangar F-16 saat ini) dengan komandan Mayor Pnb Isbandi Gondosuwignjo sehingga berhak memakai call sign Thunder-01 meskipun beliau aslinya adalah Thunder-08.pesawat ini lalu dimodifikasi menjadi pesawat tempur yang ikut dalam operasi di timor leste.
.
Sejumlah T-33 yang dioperasikan dalam misi tempur sedang dipersiapkan di Lanud, Baucau , Timor Leste.


cerita lengkapnya ada di http://weaponstechnology.blogspot.com/2010_03_01_archive.html
T-33A (Awalnya Bukan Pesawat Tempur)


Introduction
Kedatangan pesawat T-33A ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan pesawat F-86 Avon Sabre dari Australia di tahun 1973. Dengan demikian fasilitas yang dibangun di Madiun berupa renovasi sarana bantuan penerbangan juga dipakai buat pesawat T-33A yaitu overlay landasan, pembangunan pergudangan dan pembangunan fasilitas pengisian bahan bakar. Konsep awalnya pesawat T-33A direncanakan untuk mengganti pesawat L-29 Dolphin, sehingga waktu datang pesawat ini berwarna abu-abu dengan cincin kuning sertafinflash yang juga kuning layaknya pesawat yang dioperasikan oleh Kodikau.
Awalnya masuk Skadik 017 (Advance Training) dengan home base di Lanuma Iswahyudi, Madiun dengan registrasi A-3301. Satu tahun berikut tepatnya tanggal 3 Mei 1974 pesawat diserahkan ke Kohanudnas dengan demikian registrasi menjadi J-3301 lalu menjadi TS-3301 setelah semua registrasi pesawat militer di Indonesia. Pesawat yang datang dalam kegiatan bersandi Peace Modern Project ini adalah program dari Amerika guna membantu mempertahankan kualitas pilot tempur Indonesia yang menurun kemampuannya setelah dikandangkannya pesawat Blok Timur pada tahun 1966. Untuk itu terpilih enam pilot dan dua perwira teknik yang belajar ke Amerika (Lachland AFB dan Cloves AFB) guna menangani pesawat T-33A T-Birds. Sedang teknisi dipercayakan kepada Kapten TPT Utih dan Lettu TPT Subagyo Sutomo.
Mereka para teknisi mendapat pelatihan yang cukup lengkap, setelah sekolah bahasa di Lackland AFB bersama para pilot langsung dikirim ke Chanute AFB, Ilinois untuk belajar Aircraft Maintenance Officer Course (AMOC) selama enam bulan. Program selanjutnya dua perwira TNI AU tersebut melanjutkan sekolah di Shepard AFB, Kansas, dalam program yang disebut Technician Instructional Course dan berakhir di Cannon MB, New Mexico, selama dua bulan lalu On the Job Training (OJT) di pesawat T-33A yang berada di pangkalan Cannon AFB juga. Sedangkan ke 12 teknisi Bintara dan Tamtama setelah belajar bahasa Inggris teknik di Lack-land langsung bergabung dengan dua perwira di Cannon AFB untuk melaksanakan OJT. Sedangkan pesawatnya sendiri diambilkan dari military-stock Amerika di Subic, Filipina. Kemampuan lebih inilah yang nanti dimanfaatkan oleh TNI AU guna melaksanakan program yang disebut Modification A/C Structure Program Reinforcement tahun 1975 yaitu penggantian wing rod spar dilaksanakan di Depolog-30, Malang.
Terbang dari Filipina
Secara bergelombang pesawat diterbangkan dari Subic langsung ke Madiun oleh para pilot AU AS dalam empat gelombang pengiriman. Gelombang pertama tiba di Madiun pada tanggal 17 Apri1 (lima pesawat), gelombang kedua tiba tanggal 1 Juni (lima pesawat), gelombang ketiga tanggal 15 Juni (lima pesawat) dan gelombang terakhir pada tanggal 22 Juni (empat pesawat) semua terjadi pada tahun 1973. Setelah lengkap 19 unit pesawat T-33 tiba di Madiun, pada tanggal 23 Agustus 1973 diadakan penyerahan dari pemerintah Amerika kepada pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Jenderal TNI Pangabean yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan merangkap sebagai Panglima ABRI.
Selanjutnya dimasukkan ke dalam Skadik 017 dan menempati hanggar eks Skadron-42 (hangar F-16 saat ini) dengan komandan Mayor Pnb Isbandi Gondosuwignjo sehingga berhak memakai call sign Thunder-01 meskipun beliau aslinya adalah Thunder-08. Sehari setelah dilantik sebagai Komandan Skadik 017 hari berikutnya tanggal 4 Mei 1974 pesawat T-33A masuk alam jajaran Kohanudnas dan dinamakan Satuan Buru Sergap T-33A berdampingan dengan Satuan Buru Sergap F-86 di bawah satuan organik Kohanudnas yaitu Komando Satuan Buru Sergap disingkat Kosatsergap. Mayor Pnb Isbandi tetap menjadi komandan Satsergap T-33.
Modifikasi Swadaya
Meskipun bernama Peace Modern Project, ternyata pesawat T-33A adalah pesawat yang betul-betul payah kondisinya. Selain tidak bersenjata, pesawat ini masih menggunakan radio UHF (model militer Amerika) serta adanya batasan manuver yang hanya plus 3G, betul-betul pesawat latih jet yang tidak bisa dibuat manuver sama sekali. Berkat kajian dari Kolog (Komando Logistik, kini Koharmatau) maka oleh Depolog-30, Malang, diadakan penguatan pada wing rod spar sehingga pesawat dapat melakukan full maneuver hingga plus 7g serta radio yang diubah menjadi VHF, standar komunikasi pesawat di Indonesia. Kegiatan peningkatan kemampuan ini dilakukan para teknisi yang sekolah di Amerika, dibantu tujuh personel AU AS yang bertindak sebagai Technician Representative atau lebih dikenal dengan sebutan Techrep.
Dengan kemampuan ini maka para pilot T-33 mulai melakukan latihan air-to-air maneuver sebagai dasar manuver pesawat Kohanudnas dan mengantar pesawat ini dilibatkan pada Latma (Latihan Bersama) bersandi Elang Malindo 1 yang diadakan di Butterworth, Malaysia. Meskipun pesawat F-86 dari satuan Satsergap F-86 juga ikut Latma Elang Malindo 1 namun pesawat ini hanya sampai Medan. Dengan demikian pesawat T-33 adalah pesawat ternpur pertama milik TNI AU yang terbang dan berlatih hingga ke luar negeri. Beberapa tahun yang lalu juga ada saat pesawat latih jet L-29 terbang navigasi hingga Butterworth, mengingat ada siswa Malaysia ikut menjadi siswa sekolah terbang di Indonesia.
Selepas Elang Malindo 1, T-Birds juga dilibatkan dalam latihan bersandi Tutukal pada akhir 1975 disusul operasi bersandi Cakar Garuda medio 1976. Untuk mendukung operasi ini beberapa pesawat T-33A dimodifikasi oleh tim Dislitbangau dan dilengkapi dengan gun-sight tipe KB-13 (eks Ilyusin-28) serta dua laras senjata kaliber 12,7 mm dan dua buah bomb rack eks B-25. Dengan demikian pesawat T-33A menjadi pesawat tempur bersenjata tipe TA-33A. Untuk membedakan antara pesawat yang bersenjata (TA-33A) dengan pesawat tanpa senjata (T-33A) maka diadakan perubahan warna pesawat. Untuk TA-33A diberi warna hijau abu-abu dengan gigi hiu di bagian depan sedangkan T-33A tetap berwarna abu-abu. Kegiatan mempersenjatai diri ini dilakukan tanpa bantuan pihak asing dan eloknya peralatan bidik (gun-sight) mempergunakan produk Timur yaitu gun sight bekas pesawat Ilyusin-28.
Setelah diadakan modifikasi persenjataan pesawat TA-33A mampu membawa amunisi sebanyak 250 x 2 butir peluru 12,7 mm dan dua tabung rocket launcher jenis LAU (Launcher Airborne Rocket) – 68 yang dapat diisi tujuh rocket jenis FFAR 2,75 inci (Folding Fin Airborne Rocket) atau bom hingga berat 50 kg setiap sayapnya. Selanjutnya pesawat T-Birds dilibatkan lagi pada Latma Elang Malindo 2 dengan Malaysia yang diadakan di Madiun pada tahun 1977.
Dalam latihan bersama ini T-Birds adu kekuatan dengan pesawat latih Malaysia jenis CL-41G Tebuan dan diadakan exchange crew antara dua negara. Bermakna selama latihan antara pilot TNI AU dengan pilot TUDM berada dalam satu kokpit. Bulan Oktober 1979 Satsergap T-33 dilebur menjadi Skadron T-33, sedangkan Satsergap F-86 menjadi Skuadron F-86. Keduanya berada di bawah Wing Tempur 300 Kohanudnas. Setahun berikutnya nama itu diubah lagi menjadi Skadron Operasional T-33. Pesawat T-Birds dinyatakan non operasional pasca jatuhnya pesawat registrasi TS-33xx di kota Blitar pada 20 Juni 1980 bertepatan dengan diadakannya latma Elang Indopura 1 di Madiun. Selama dioperasikan TNI AU selama tujuh tahun (1973 – 1980) telah gugur enam pilot dalam tiga kecelakaan yang terpisah.
Salah satu kecelakaan yang menyebabkan dua penerbang T-33 gugur adalah kecelakaan yang terjadi pada tanggal 18 Februari 1976. Saat itu pesawat T-33 dengan nomor regristasi J-3327 jatuh di kaki Gunung Lawu yang mengakibatkan gugurnya dua penerbang Mayor PNB Sukirwan dan Lettu PNB Sutadi. Sedangkan pilot T-33 yang meninggal karena sakit adalah Letty PNB Kukky.


pesawat T-33 AURI yang sudah dipersenjatai dicat dengan warna hijau dan nose bergambar hiu

Sejumlah T-33 yang masih dengan warna asli putih dan baru saja dikirim dari Pangkalan Udara Subic, Filipina. Sebanyak 19 unit T-33 diterbangkan dari Subic menuju Lanud Iswahyudi oleh pilot-pilot USAF.

DATA PESAWAT T-33 BIRD AURI


MONUMENNYA ADA DI :

di Lanud Iswajudi ,Madiun (foto by Deval Riantoro)
Hasil gambar untuk T-33 bird auri
Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta

Di SESKOAU, Lembang, Bandung

Minggu, 21 Juni 2015

Tupolev TU-16 Badger

Tupolev TU-16 BADGER

Pesawat ini dibeli Indonesia pada tahun 1960 dan datang ke Indonesia pada tahun 1961. Pesawat TU-16 yg dibeli Indonesia yaitu dengan jenis TU-16 Badger A dan TU-16 Badger B(Badger B yang memiliki rudal anti kapal AS-1 Kennel). Pesawat ini semua berjumlah 26 pesawat yaitu 14 pesawat versi pembom jarak jauh dan 12 versi  maritim yang dilengkapi rudal AS-1 kennel dan di masukkan  ke dalam Skadron Udara 41(TU-16 Badger A)dan Skadron Udara 42(TU-16 Badger B KS) di Lanud Iswajudi, Madiun. Pesawat ini sempat ikut dalam Operasi Trikora dan Operasi Dwikora,lalu tahun 1970 pesawat ini digrounded akibat kelangkahan suku cadang. Menurut catatan pesawat yang terakhir terbang adalah M-1625.
 Hasil gambar untuk tu-16 auriHasil gambar untuk tu-16 auri
TU-16 Badger A dengan registrasi M-1607 terdapat gambar "cakra" pada bagian nose pesawat

monumennya ada di


Foto AURI MiG plane photo.

Lanud Iswahjudi,Madiun by Deval Riantoro

Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala,Yogyakarta

Jumat, 19 Juni 2015

Mikoyan Gurevich Mig-17 Fresco

MIKOYAN GUREVICH MIG-17 FRESCO

Pesawat ini datang ke Indonesia pada tahun 1958 dan dimasukkan ke dalam Skadron 11 Buru Sergap. Pesawat ini dibeli sebanyak  49 buah dengan varian yaitu 30 Lim-5,7 Lim-5P, dan 12 Mig-17 Type 56. Pesawat ini juga membuat sebuah tim aerobatic yg terbentuk pada awal 1960 oleh para penerbang Skadron  11 .formasi yang digunakan terdiri oleh 4 pesawat mig-17 dengan gerakan aerobatik roll, loop, immelman, cuban eight, dan bomb bust. Pesawat ini mulai digrounded oleh AURI pada tahun 1970an karena kelangkaan suku cadang pesawat.

Pesawat ini juga ikut dalam beberapa operasi di indonesia yaitu Operasi Trikora dan Operasi Dwikora





MIG-17 versi PF Milik  AURI

Livery yang pernah dipakai oleh Mig-17 AURI :

































monumennya ada di beberapa tempat yaitu:


pintu masuk Lanud Iswajudi,Madiun
di depan terminal bus maospati-madiun
di Museum Dirgantara Mandala,Yogyakarta
di halaman Akademi Angkatan Udara,Yogyakarta
di taman kota bantaran sungai madiun(by antarafoto.com)
di tepi telaga sarangan-tawangmangu (from eko winarmo)
di jalan juanda.Lanud juanda,Surabaya
jalan menuju Bandara bandarmasin (lama)
(baru)
diujung jalan Soekarno Hatta,Malang
di komplek Lanud Abdulrahman Saleh,Malang


di tepi landasan Lanud Iswajudi-Madiun
dan masih banyak lagi